Marilah Membaca Buku

https://i2.wp.com/toko.buku.pustaka-islam.net/images/categories/book-open1.jpg

Buku adalah tetangga yang paling baik, pengajar yang paling tawadhu, ternan yang paling setia dan tidak akan pernah bermaksiat kepadamu sama sekali. Pernahkah Anda rnelihat ada guru yang tawadhu kepada muridnya? Begitulah buku bertawadhu kepada pembacanya. Buku juga bisa menjadi ternan yang sejajar dan pohon yang selalu berbuah. Buku memadukan antara hikmah yang baik, akal yang matang, berita-berita masa lalu dan negeri-negeri yang tercecer, menjernihkan akal, mencerdaskan otak, memperluas wawasan, memperkuat keinginan, melembutkan keganasan, memberi faidah dan tidak meminta faidah, serta memberi dan tidak mengambil.

Sebaik-baik buah hati yang engkau kencani adalah buku
jika kawan-kawanmu berkhianat, engkau bisa bercumbu dengannya
jika engkau menitip pesan rahasia, dia akan menjaga
akan engkau peroleh darinya hikmah dan kebenaran

Abu bakar AI-Qaffal berkata,

Bukuku adalah sahabatku yang akan selalu menyertaiku
Walaupun hartaku sedikit dan ketampananku sirna
Bukuku adalah ayah dan ibuku tercinta
Keduanya terwakili olehnya,
walaupun ayah dan Ibuku tiada

Bukuku adalah teman duduk terbaikku yang tiada pernah bosan
Pemandu kebenaran yang tak pernah jemu
Pemberi berita masa lalu yang telah berjalan berabad-abad lamanya
Seakan-akan aku melihat masa-masa itu masih ada

Bukuku bagaikan laut yang tiada pernah habis memberi
Yang selalu memberi harta jika hartaku tiada
Bukuku adalah bukti atas balknya tujuan
Darinya aku mendapatkan bukti dan petunjuk
Jika aku tersesat dari tujuan dia meluruskanku
Jika akalku tersesat dia mengembalikanku dari kesesatan

Kaltsum bin Amru Al-Atabi berkata

Kami mempunyai teman duduk
yang tak bosan kami berbincang denganya
Mereka dapat dipercaya ketika ada atau tiada
Dari pendapat mereka kita tahu ilmu orang-orang terdahulu
Pemikiran, pendidikan, dan pendapat yang benar

Tidak pernah mengeluh dan tidak pernah berperilaku buruk
Tidak perlu menjaga lisan dan tangan dari mereka
Jika kamu katakan mereka telah mati maka kamu tidak salah
Jika kamu katakan mereka masih hidup maka kamu tidak berdusta

Buku adalah sebaik-baik teman duduk dan teman bercumbu tatkala sendiri. Buku adalah sebaik-baik pengetahuan tentang negeri yang asing, teman terdekat dan terdalam. Buku adalah sebaik-baik menteri dan tamu. Kadang-kadang kamu tertawa dengan anekdotnya, kadang kamu takjub dengan keanehan faidahnya, kadang kamu lupa dengan catatan pinggirnya, dan kadang kamu terlena dengan nasihat-nasihatnya. Buku memberitahukan kepadamu berita-berita tentang generasi awal dan akhir, apa yang tersembunyi dan yang tampak, berbicara tentang orang yang telah mati dan menerjemahkan orang-orang yang masih hidup , pandai menyimpan rahasia si empunya rahasia, amanah dalam menjaga barang titipan. Buku tidak akan rnemperlakukanmu dengan makar, tidak akan mendustaimu dengan kemunafikan, dan tidak akan membohongimu dengan tipu daya. Buku adalah kekasih yang jika kamu semakin lama melihatnya akan semakin nikmat kamu rasakan, menghangatkan suasana, melancarkan percakapan, memperbaiki sigap anggota badan dan mempertegas perkataan. Dengannya kamu tahu perkataan orang-orang di kurun waktu tertentu. Buku akan selalu mentaatimu siang dan malam, mentaatimu dalam perjalanan dan di waktu kamu bermukim. Dia tidak akan tertidur dan tidak akan lekang karena perjalanan.’

Buku tidak mengenal perbedaan waktu, tempat, dan batas geografis, sehingga pembaca dapat hdup di segala rnasa, segala kerajaan, dan segala penjuru. Dia bisa berteman dengan orang-orang besar dan apa yang mereka lakukan, walau jarak antara dirinya dan mereka terpaut beribu-ribu tahun lamanya.

Renungkanlah keadaan umat Islam ketika membaca kisah-kisah para. nabi dalarn Al-Our’an, Mereka hidup di negeri yang sangat jauh dan di masa yang sangat lama. Namun demikian, seorang Muslim dapat membaca kisah tersebut seakan-akan mereka hidup sezaman denqan mereka.Mereka dapat membaca kisah Ibrahim, Ishak. Ya’qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayub, Yusuf, Musa. Harun, Zakaria, Yahya, Isa, llyas, Ismail, Ilyasa, Yunus, Luth, nabi-nabi, dan orang-orang salih lainnya, yang berita mereka tercatat dalam AI-Qur’an dan Sunnah. Kita dapat membaca berita mereka dan merasakan seakan-akan kita hidup bersama mereka. Renungkanlah nikmat ini, tidak ada yang dapat mendatangkan kepada kita faidah sebesar ini kecuali buku. Maka betapa agung keberadaannya dan betapa besar nikmat tersebut!

Mengapa Kita Membaca?

Seorang Muslim membaca karena beberapa faidah:

* Supaya mendapatkan pahala membaca seperti membaca Al-Our’an.
* Membaca untuk belajar ilmu syariat dan memahami agamanya.
* Membaca untuk mengembangkan kepandaian berbahasa dan mendapatkan ilmu-ilmu dunia yang bermanfaat.
* Mengulang-ulang bacaan untuk menghapal.
* Membaca untuk mengetahui tipu daya musuh-musuh Islam dan berhati-hati dari jebakan orang-oranq munafik.
* Membaca untuk menyibukkan diri dari kebatilan, karena jika jiwa ini tidak disibukkan dengan ketaatan, dia akan sibuk dengan kemaksiatan.
* Membaca untuk hiburan dan melepaskan ketegangan.
* Masih banyak lagi faidah dan tujuan membaca yang disyariatkan dan untuk mendapatkan faidah keduniaan.

Sedangkan menurut metode yang keliru, suku yang di dalamnya banyak orang yang dapat membaca, maka suku itu dianggap sebagai suku terpelajar. Orang-orang yang berpemahaman seperti ini berpendapat bahwa membaca adalah untuk membaca dan seni untuk seni.

Mereka menjadikan membaca sebagai tujuan bukan sarana. Maka dari itu, mereka membaca apa yang menyenangkan dan menggairahkan tanpa ada seleksi dan pemilahan. Sedangkan kita harus menganggap bahwa membaca adalah sarana untuk merealisasikan tujuan, yaitu keridhaan Allah. Dia membaca bukan supaya bisa menjauhi orang-orang bodoh, dekat dengan ulama dan menjadi pusat perhatian manusia, karena siapa yang membaca untuk tujuan seperti ini, akan dimasukkan Allah ke dalam api neraka karena ketidak-ikhlasannya.”

Jangan membaca sesuatu yang tidak bermanfaat bagi agama dan duniamu, karena waktumu lebih berharga daripada itu.

Diantara penyakit yang melanda kita pada saat ini adalah mengambil sesuatu tanpa seleksi dan membaca metode dan jalan pikir orang lain tanpa kritik dan pembedaan. Hal semacam ini dalam masyarakat Islam telah menyebabkan masuknya serangan musuh-musuh Islam ke dalam diri mereka, sehingga mereka tidak bisa lagi membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Mereka belajar sesuatu yang membahayakan bagi agama mereka dan tidak bermanfaat bagi mereka, membaca sesuatu yang telah direkayasa oleh tangan-tangan musuh Islam, lalu mereka sendiri menyebarkan virus itu kepada kaum Muslimin tanpa sadar dan tanpa pemahaman.

Oleh: Syaikh Muhammad Shalih Munajjid.
dikutip dari Blog sahabat kami, ichsanmufti.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s