Kesetiaan sejati sang istri Rasulullah SAW.

“Demi Alloh, tidak ada ganti yang lebih baik dari dia, yang beriman kepadaku saat semua orang ingkar, yang percaya kepadaku ketika semua mendustakan, yang mengorbankan semua hartanya saat semua berusaha mempertahankannya dan daripadanyalah aku mendapatkan keturunan”

Demikianlah Rasululloh SAW menggambarkan kepribadian Siti Khadijah r.a., Istri beliau. Seorang istri sejati, muslimah yang dengan segenap kemampuan diri berkorban demi kejayaan Islam. Siti Khadijah r.a. berasal dari keturunan terhormat, mempunyai harta kekayaan yang tidak sedikit serta terkenal sebagai wanita cerdas dan tegas. Bukan sekali dua kali pemuka kaum Quraisy berusaha untuk mempersunting dirinya.

Tetapi pilihannya justru jatuh pada seorang pemuda bernama Muhammad, pemuda yang terkenal sebagai seorang yang terpercaya (Al-Amin), yang tak tergiur oleh kekayaan dan kecantikan siti Khadijah r.a.

Siti Khadijah r.a adalah wanita pertama yang beriman kepada Alloh dan RosulNya. Beliau banyak membantu dalam meneguhkan tekad Rosululloh SAW ketika melaksanakan risalah dakwah. Ia senantiasa berusaha meringankan kepedihan hati dan menghilangkan keletihan serta penderitaan yang dialami oleh suaminya, dalam menjalankan tugas dakwah menegakkan kalimat tauhid.

Inilah keistimewaan dan keutamaan khadijah dalam sejarah perjuangan Islam. Beliau adalah sumber kekuatan yang berada di belakang Rosululloh SAW. Mari kita singkap kembali peristiwa yang sungguh mendebarkan jantung Rasululloh SAW. Peristiwa itu ialah penerimaan wahyu yang pertama di Gua Hira. Sekembalinya ke rumah, baginda berkata kepada istrinya tercinta,’Aku berasa khawatir terhadap diriku’

Siti khadijah r.a berusaha menabahkan hati suami yang ditaatinya dengan berkata, ’Wahai kakanda, demi Alloh, Tuhan tidak akan mengecewakanmu karena sesungguhnya kakanda adalah orang yang selalu memupuk dan menjaga kekeluargaan serta sanggup memikul tanggung jawab. Dirimu dikenali sebagai penolong kaum yang sengsara, sebagai tuan rumah yang menyenagkan tamu, ringan tangan dalam memberi pertolongan, senantiasa berbicara benar dan setia kepada amanah’.

Apakah ada wanita lain yang dapat menyambut sedemikian baik peristiwa bersejarah yang berlaku di Gua Hira seperti yang dilakukan oleh Khadijah kepada suaminya? Apa yang dikatakan oleh Khadijah kepada suaminya pada saat menghadapi peristiwa besar itu menunjukkan betapa besarnya kepercayaan dan kasih sayang seorang isteri kepada suami.

Sedikitpun Khadijah tidak merasa ragu di dalam hatinya. Persoalannya, dapatkan kita berlaku demikian? Siti Khadijah r.a merupakan wanita kaya dan terkenal. Ia bisa saja hidup bermewah-mewah dengan hartanya sendiri. Namun, semua itu dengan rela dikorbankannya untuk memudahkan tugas-tugas suaminya. Hal ini jelas menunjukkan beliau wanita yang mendorong kemajuan pahlawan umat manusia, melindungi pejuang terbesar dalam sejarah dengan mewujudkan kedamaian dalam kehidupan rumah tangga.

Sikap inilah yang menjadi salah satu sumber kekuatan Rosululloh SAW sepanjang kehidupan mereka bersama. Mari kita teliti, fahami serta hayati beberapa gambaran kesetiaan Khadijah yang telah membina kekuatan pada diri dan kehidupan penegak risalah Islam itu.

Sepanjang hidupnya bersama Rosululloh SAW, Siti Khadijah begitu setia menyertai baginda dalam setiap peristiwa suka dan duka. Setiap kali suaminya ke Gua Hira, ia pasti menyiapkan semua bekal dan keperluannya. Seandainya Rosululloh SAW agak lama tidak pulang, ia akan datang menengok untuk memastikan keselamatan sang suami. Sekiranya Rasululloh SAW khusuk bermunajat, beliau tinggal di rumah dengan sabar sehingga suaminya pulang. Apabila suaminya mengadu kesusahan serta berada dalam keadaan gelisah, sekuat diri beliau menentramkan dan menghibur hati suaminya sampai diliputi ketenangan. Setiap ancaman dan penganiayaan dihadapi bersama.

Malah dalam banyak kegiatan peribadatan Rasululloh SAW, Siti Khadijah r.a dipastikan selalu ada bersama dan membantu baginda dari mulai hal kecil seperti menyediakan air untuk mengambil wudhu. Kecintaan Khadijah bukanlah sekedar kecintaan terhadap suami. Tetapi berdasarkan keyakinan yang kuat terhadap keesaan Alloh SWT. Segala pengorbanan untuk suaminya adalah ikhlas untuk mencari keridhoan Alloh SWT.

Alloh Maha Adil dalam memberi RahmatNYA. Setiap amalan yang dilakukan dengan penuh ke ikhlasan pasti mendapat ganjaran yang kekal.Wahai muslimah, sekarang adalah masa untuk kita hidupkan kembali hakikat ini dalam kehidupan kita.

Ternyata, sangat luas makna tentang sebuah kesetiaan. Bukan sekedar menanti suami di rumah atau menjaga diri dari fitnah. Masih bisakah kita menjadi seperti Khadijah RA?

(Disadur dari : Dewan pemuda sie muslimah PAS www.cybermq.com – 17 Apr 2006)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s