Menulis Sebagai Ibadah

http://yuamar.files.wordpress.com/2009/10/write.jpg
Niat utama yang mendasari penulisan buku itu adalah sebagai ibadah, untuk mencari ridha Allah

مِن قَبْلِهِ مِن كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ إِذاً لَّارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ

Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Qur’an) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu. andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu). (QS.29:48)

Johannes Pedersen dalam bukunya The Arabic Book (1984) mengemukakan bahwa buku di dunia Arab berakar dari Islam. Kenyataan ini tambahnya memberi ciri khas yag dibawa Islam. Bahkan, dengan sangat jujur orientalis ini menyatakan,” Jarang ada kebudayaan lain dimana dunia tulis-menulis memainkan peranan yang begitu penting dalam peradaban Islam”.

Bagi sementara orang menulis buku dianggap sebagai momok yang menakutkan dan sulit. Padahal, bagi yang mau mencoba dan benar-benar mempunyai kemauan yang tinggi, menulis buku itu sama mudahnya dengan berbicara.

Yang penting, niat utama yang mendasari penulisan buku itu adalah sebagai ibadah, untuk mencari ridha Allah, untuk menyebarkan ilmu Allah. Dengan niat semacam ini niscaya kesulitan-kesulitan dalam menuangkan ide-ide dalam buku akan dipermudah oleh Allah.

Didalam buku “Berdakwah dengan menulis Buku” menerangkan kepada kita berbagai jawaban atas pertanyaan mendasar, mengapa harus menulis buku?

a. Menangkap Pesan tersirat Al-qur’an
Iqra’ perintah membaca adalah kata pertama dari wahyu yang diterima oleh Rasullullah SAW. Sedemikian pentinganya sehingga kata itu diulang 2 kali dalam rangkaian wahyu pertama.

Sementara perintah menulis memang belum secara ekplisit disebutkan oleh Al-Quran, tapi membaca dan menulis sejatinya merupakan 2 aktivitas yang tidak dapat dipisahkan. Sehingga perintah membaca secara tersirata sebenarnya isyarat perintah untuk menulis. Sebab tidak ada yang akan dibaca jika tidak ada bahan yang akan dibaca.

b. Menulis sebagai Tradisi Qur’ani
Tradisi menulis dilakukan para sahabat bukan hanya terbatas pada penulisan Al-Qur’an dan sebagian hadits, tetapi juga pada aspek yang lebih luas.

Dengan demikian menulis merupakan aktivitas yang sangat dianjurkan oleh Al-Qur’an. Tradisi menulis merupakan pintu gerbang perdaban. Sayangnya, menulis merupakan tradisi Qur’ani itu saat ini masih terabaikan. Sudah saatnya kaum muslimin berjuang bersama menggalakkan tradisi menulis ini sebagai jalan untuk menggapai kembali kejayaan peradaban umat Islam.

c. Melanjutkan tradisi ulama
Ahli Tafsir Ibnu Katsir, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Malik dan masih sangat banyak lagi merupakan ulama-ulama yang telah berjasa atas tersampaikannya ilmu Islam dari dulu sampai saat ini melalui media tulisan.

Imam Al-Ghazali adalah salah satu contoh ulama yang produktif menghasilkan karya tulisan. Kitab-kitab karyanya, misalnya Ihya Ulumuddin, yang ditulis Al-ghazali pada abad 12, sampai sekarang masih dibaca dan menjadi referensi banyak orang.

Di Indonesia sendiri, ulama-ulama juga sangat dikenal memiliki tradisi penulisan yang cukup kental . Dari sekelas Imam Nawawi Al Bantani, KH Sholeh Darat, KH Hasby Ash Shidiqi, HAMKA, KH Munawar Cholil, KH A Hasan dan Mahmud Yunus sampai ulama-ulama masa kini. Seorang kyai atau ulama seolah tidak eksis jika tidak menelorkan buku.

Dengan demikian, menggalakkan tradisi menulis terutama buku, merupakan upaya melanjutkan tradisi baik yang telah ditelandankan secara gemilang oleh para ulama.

d.Menulis buku Ikhtiar “Mengikat Ilmu”.
Imam Ali bin Abi Thalib RA mengatakan “ikatlah ilmu dengan menuliskannya”.Ilmu yang hanya disimpan dalam otak pemiliknya saja, tanpa menulis, akan berakhir setelah kematian sang pemilik ilmu. Tapi ilmu yang diikat kedalam bentuk buku, ia akan tetap bermanfaat bahkan setelah pemilik ilmu itu sendiri telah tiada.

e. Buku sebagai sarana dakwah.
Apapun yang terjadi , buku memang telah mulai menjadi alternatif rujukan ummat. Sehingga menjadikan buku sebagai sarana dakwah, tausyah, maupun koreksi dan kritik terhadap muslim, merupakan jalan yang layak untuk ditempuhi. Asalka n semuanya berangkat dari niat yang muliapula, yaitu menuju pencerahan, menggapai kebenaran dan penyimpangan dan kesesatan sebagai inti dakwah.

f. Menulis buku dapat membuka pintu rezeki.
Menulis buku tidak semata-mata kerja idealis tapi juga kerja yang bisa berdampak ekonomis. Artinya tidak hanya kerja bagi-bagi ilmu, tapi juga dapat mendatangkan uang saku atau penghasilan.

Semoga bermanfaat

One thought on “Menulis Sebagai Ibadah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s