Panduan Harian Muslim di Bulan Ramadhan

Salah satu hal penting dan urgen yang harus diper-siapkan untuk menyambut kedatangan bulan Rama-dhan yang mulia adalah: “Memupuk tekad yang kuat untuk mempergunakan dengan sebaik-baiknya hari-hari dan malamnya serta menghidupkannya dengan amal-an-amalan shaleh.”

Saudaraku kaum Muslimin dan Muslimat….

Sesungguhnya Alloh  sangat menekankan nilai waktu dan bahkan sering bersumpah dengannya, karena begitu mulia dan tingginya kedudukan waktu tersebut. Di antaranya Alloh subhanahu wa ta’ala :

“Demi waktu ‘Ashar.” (QS. al-‘Ashr [103]: 1)

“Demi waktu fajar.” (QS. al-Fajr [89]: 1)

Demi waktu Dhuha. Dan demi waktu malam apabila telah sunyi.” (QS. adh-Dhuha [93]: 1-2)

Dalam ayat-ayat tersebut dan ayat lainnya, Alloh  subhanahu wa ta’ala bersumpah dengan semua jenis waktu dikarenakan ke-muliaan dan kedudukannya yang begitu tinggi.

Di samping itu, waktu tiada lain adalah umur kita yang kita hidup berdampingan dengannya di muka bumi ini.

Hasan al-Bashri rahimahullah  berkata:

( اِبْنَ آدَمَ إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ )

“Wahai anak Adam, engkau tidak lain adalah kum-pulan hari hari. Setiap satu hari berlalu, maka berlalu pula sebagian dari dirimu.”

Seorang penyair berkata, “Denyut jatung seseorang berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya kehidupan hanyalah kumpulan menit dan himpunan detik.”

Ibnu al-Jauzi rahimahullah  berkata; “Seseorang harus menyadari begitu berharganya waktu dan mulianya zaman ini, hing-ga sesaatpun ia tidak boleh menyia-nyiakannya tanpa ibadah. Maka hendaknya diprioritaskan amalan yang paling utama dari jenis perkataan dan perbuatan, dan hendaknya selalu dibarengi dengan niat yang baik tanpa merasa futūr (lelah) yang menyebabkannya tidak mampu untuk beramal.”

Dan berkata seorang yang shaleh: “Umur itu pendek, maka janganlah kamu memperpendeknya dengan ke-lalaian.”

Seorang salaf berkata, “Sesungguhnya malam dan siang bekerja demi dirimu, maka bekerjalah engkau untuk mengisi keduanya.”

Sesungguhnya malam dan siang adalah jembatan untuk menuju kebahagiaan abadi (surga) atau keseng-saraan yang abadi (neraka).”

Wahai saudaraku kaum Muslimin dan Muslimat… perhatikanlah firman Alloh subhanahu wa ta’ala tentang sifat bulan Rama-dhan ini:

“…hari-hari yang terhitung….” (QS. al-Baqarah [2]:184)

Maksudnya hari-hari Ramadhan tersebut adalah hari-hari yang cepat berlalu dan mudah terlewati, seolah-olah belum pernah terjadi, karena cepatnya pergantian.

Oleh karena itu, agar Ramadhan kita semua tidak ber-lalu dengan “percuma” dan penuh “kesia-siaan”, berikut “Panduan Harian Ramadhan” yang menjadi agenda rutin Anda semua:

PERTAMA:

AMALAN SEBELUM SHUBUH

Bagi seorang Mukmin sejati, aktifitas dan rutinitas hariannya dimulai sebelum shalat Shubuh, bukan setelah-nya, karena ia mengetahui benar kemuliaan waktu ter-sebut. Inilah waktu ketika Alloh subhanahu wa ta’ala turun ke langit dunia.

Berikut amalan-amalan yang sepatutnya dilakukan pada waktu yang penuh berkah tersebut:

1. Bangun tidur dengan segera sebelum waktu shalat Shubuh tiba, dan tidak lupa membaca doa bangun tidur:

(( الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ ))

2. Membaca dzikir khusus untuk shalat malam.

Yaitu membaca QS. Ali ‘Imran [3]: 190-200. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

3. Membersihkan gigi dengan siwāk.

Dalam sebuah riwayat dinyatakan:

( كَانَ النَّبِىُّ  إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ يَشُوْصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ )

“Rosulullloh apabila bangun malam, beliau biasa membersihkan giginya dengan siwak.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

4. Berwudhu untuk shalat tahajjud.

5. Mengerjakan shalat tahajjud.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

“(Apakah kalian hai orang-orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan meng-harapkan rahmat Robbnya?…” (QS. az-Zumar [39]: 9)

6. Membangunkan keluarganya (atau teman) yang masih tertidur, untuk shalat atau makan sahur.

Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam bersabda:

(( مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ ))

“Barangsiapa yang menunjukkan suatu kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim)

7. Makan sahur.

Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam bersabda:

(( تَسَحَّرُوا، فَإِنَّ فِى السَّحُورِ بَرَكَةً ))

Bersahurlah kalian, karena di dalamnya ada ke-berkahan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

8. Mengakhirkan waktu sahur.

Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam bersabda:

(( لاَ تَزَالُ أُمَّتِى بِخَيْرٍ، مَا أَخَّرُوا السَّحُورَ، وَعَجَّلُوا الْفِطْرَ ))

“Umatku senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka puasa.” (HR. Ahmad)

9. Sebaiknya makan sahur dengan kurma jika memung-kinkan, yaitu dengan bilangan ganjil.

Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam bersabda:

(( نِعْمَ السُّحُورُ التَّمْرُ ))

“Sebaik-baik makanan sahur adalah kurma.” (HR. ath-Thabrani, dishahihkan al-Albani)

10. Beristighfar di waktu sahur.

Alloh subhanahu wa ta’ala memuji para hamba-Nya yang beristighfar pada waktu sahur dalam firman-Nya:

“Dan pada waktu sahur mereka (orang yang ber-iman) mengucapkan istighfar.” (QS. adz-Dzariyat [56]: 18)

11. Memperbanyak doa pada waktu sahur.

Karena pada waktu itu adalah waktu turunnya Alloh subhanahu wa ta’ala ke langit dunia, salah satu waktu yang penuh berkah dan terkabulnya doa.

Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam bersabda:

(( إِنَّ فِى اللَّيْلِ لَسَاعَةً، لاَ يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ، وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ ))

“Sesungguhnya pada malam hari ada satu waktu yang tidaklah seorang hamba Muslim memohon kepada Alloh suatu kebaikan dari perkara dunia dan akhirat, melainkan Alloh akan mengabulkan-nya dan waktu itu ada pada setiap malam.” (HR. Muslim)

12. Berwudhu untuk shalat Shubuh.

Sunnahnya seorang Muslim berwudhu di rumahnya, meskipun dibolehkan berwudhu di masjid.

Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam bersabda:

(( مَنْ تَوَضَّأَ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ لاَ يَنْهَزُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ، غُفِرَ لَهُ مَا خَلاَ مِنْ ذَنْبِهِ ))

“Barangsiapa yang berwudhu lalu keluar ke masjid, tidaklah ia pergi melainkan untuk mengerjakan shalat, maka Alloh akan mengampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

13. Membaca dzikir selesai wudhu.

Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam bersabda:

(( مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ  فُتِّحَتْ لَهُ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ ))

“Barangsiapa yang berwudhu dan membaguskan wudhunya kemudian berdoa dengan:

(( أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ))

maka akan dibukakan baginya delapan pintu surga, yang ia boleh masuk dari arah mana saja yang ia kehendaki.” (HR. Muslim)

14. Menjawab lafazh adzan yang dikumandangkan mu-adzdzin, lalu berdoa setelahnya.

Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang mendengar adzan dan meng-ucapkan:

(( وَأَنَا أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ  نَبِيًّا ))

maka dosanya akan diampuni.” (HR. Muslim)

Dan berdoa dengan:

(( اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِى وَعَدْتَهُ ))

15. Melaksanakan shalat sunnah qabliyyah (sebelum) Shubuh.

Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam bersabda:

(( رَكْعَتَا الفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا ))

“Shalat dua raka’at sebelum Shubuh lebih baik dari dunia dan seisinya.” (HR. Muslim)

16. Membaca doa keluar rumah:

(( بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ ))

17. Membaca doa pergi ke masjid:

(( اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا، وَفِي سَمْعِي نُورًا، وَفِي بَصَرِي نُورًا، وَعَنْ يَمِينِي نُورًا، وَعَنْ شِمَالِي نُورًا، وَأَمَامِي نُورًا، وَخَلْفِي نُورًا، وَفَوْقِي نُورًا، وَتَحْتِي نُورًا، وَاجْعَلْ لِي نُورًا ))

18. Membaca doa masuk masjid dengan melangkahkan kaki kanan terlebih dahulu:

(( بِسْمِ اللهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ، اللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ ))

19. Apabila masuk masjid, maka dianjurkan melakukan shalat sunnah tahiyyatul masjid.

Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam bersabda:

(( مَنْ تَوَضَّأَ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ، فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ جَلَسَ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ))

“Barangsiapa yang berwudhu lalu pergi ke masjid dan melakukan shalat dua raka’at kemudian duduk, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lampau.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

20. Selalu mencari shaff (barisan) pertama dalam shalat.

Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam bersabda:

(( لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوْا ))

“Seandainya umat manusia mengetahui (pahala) yang ada dalam adzan dan shaff pertama, lalu tidak mendapatkannya melainkan harus dengan undian, niscaya mereka (akan rela) untuk mela-kukan undiannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

KEDUA:
AMALAN SETELAH TERBIT FAJAR

1. Bersegera untuk mendirikan shalat Shubuh.

Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam bersabda:

(( لَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِى الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ، لأَتَوْهُمَا وَلَوْحَبْوًا ))

Seandainya umat manusia mengetahui pahala yang terdapat dalam shalat Isya’ dan Shubuh (se-cara berjama’ah), niscaya mereka akan menda-tanginya walaupun harus merangkak.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

2. Menyibukkan diri dengan dzikir dan doa sampai da-tang waktu iqāmah.

Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam bersabda:

(( الدُعَاءُ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ ))

“Doa antara adzan dan iqāmah tidak akan ditolak.” (HR. at-Tirmidzi dan Ahmad, dishahihkan al-Albani)

3. Duduk di masjid untuk berdzikir dengan dzikir pagi dan membaca al-Qur’an, setelah shalat Shubuh hing-ga terbit matahari.

Dalam sebuah riwayat dinyatakan:

( فَقَدْ كَانَ النَّبِىُّ  إِذَا صَلَّى الْفَجْرَ، تَرَبَّعَ فِى مَجْلِسِهِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ )

“Apabila Nabi  telah selesai shalat Shubuh, maka beliau duduk bersila di tempat duduknya sampai terbit matahari.” (HR. Muslim)

4. Shalat dua raka’at setelah terbitnya matahari (shalat syurūq) dan saat naik satu tombak bayangannya.

Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam bersabda:

(( مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ، ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ، كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ ))

Barangsiapa yang melakukan shalat Shubuh ber-jama’ah kemudian duduk berdzikir mengingat Alloh hingga terbit matahari lalu shalat dua ra-ka’at, maka ia mendapatkan pahala haji dan ‘umrah secara sempurna. Nabi mengulanginya sebanyak 3 X).” (HR. at-Tirmidzi, dihasankan al-Albani)

Waktu tersebut adalah sekitar seperempat jam setelah terbitnya matahari.

5. Berangkat ke tempat kerja atau belajar.

Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam bersabda:

(( مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدَيْهِ، وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ  كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ ))

“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada memakan hasil usahanya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Dawud makan dari hasil usahanya sendiri.” (HR. al-Bukhari)

6. Tidur siang sebentar (qailūlah) dengan mengharapkan pahala darinya.

Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam bersabda:

(( إِنِّيْ َلأَحْتَسِبُ نَوْمَتِيْ كَمَا أَحْتَسِبُ قَوْمَتِيْ ))

“Sesungguhnya aku mengharapkan pahala waktu tidurku sebagaimana aku mengharapkan pahala waktu terjagaku.”

Syaikh Muhammad Amin ditanya, “Apakah tidur se-belum Zhuhur ini disebut qailūlah?, maka ia menjawab: “Allohu a’lam, akan tetapi kaum salaf mengatakan, “Me-rupakan suatu kepatutan bagi seseorang untuk tidur se-jenak pada waktu siang dan malam supaya membantu-nya qiyām al-lail (bangun shalat tahajud), karena ada suatu hadits:

( مَاكُنَّا نَقِيْلُ وَلاَ نَتَغَدَى إِلاَّ بَعْدَ الْجُمْعَةِ )

“Kami (para sahabat) tidak melakukan qailūlah (tidur siang) dan makan siang melainkan setelah Jum’at.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Ini merupakan dalil bahwa mereka pada hari-hari selainnya melakukan qailūlah sebelum tergelincirnya matahari (sebelum Zhuhur) dan ada sebuah hadits dha’if:

(( إِسْتَعِيْنُوْا بِالقَيْلُوْلَةِ عَلَى قِيَامِ اللَّيْلِ ))

“Bantulah bangun malam (shalat tahajud) dengan tidur pada siang hari (qailūlah).”

Ibnu Hajar  berkomentar tentang hadits di atas, “Maksudnya mereka memulai shalat (Jum’at) terlebih dahulu sebelum qailūlah, berbeda dengan kebiasaan me-reka pada waktu Zhuhur yang panas, mereka qailūlah terlebih dahulu kemudian shalat.”

Ibnu Mundzir rahimahullah  menyebutkan, “Kebiasaan orang yang qailūlah adalah sebelum matahari tergelincir (waktu Zhuhur), maka seorang sahabat mengabarkan bahwa mereka sibuk dengan persiapan Jum’at dan mengakhir-kan qailūlah sampai selesai shalat Jum’at.”

7. Bangun sebelum Zhuhur dengan tidak lupa dari shalat Dhuha, meskipun hanya dua raka’at.

Yaitu shalatnya orang-orang yang bertaubat. Barang-siapa yang melaksanakannya, maka seperti bersedekah pada setiap urat sendinya.

Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam bersabda:

(( يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَي مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ، فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ، وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى ))

Pada setiap persendian salah seorang di antara kalian terdapat sedekah. Setiap tahmīd (bacaan al-hamdu lillah) adalah sedekah, setiap tahlīl (ba-caan lā ilāha illalloh) adalah sedekah, setiap takbīr (bacaan Allohu akbar) adalah sedekah dan amar ma’rūf nahir munkar adalah sedekah. Dan itu semua tercukupi dengan dua raka’at yang dilaksa-nakan di waktu pagi (shalat Dhuha).” (HR. Muslim)

Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam juga bersabda:

(( صَلاَةُ الأَوَّابِيْنَ حِيْنَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ ))

“Shalatnya awwābīn (orang-orang yang kembali kepada Alloh) adalah ketika anak onta merasa ke-panasan karena terik sinar matahari.” (HR. Muslim)

Waktu tersebut ditengarai terjadi sekitar pukul 10 pagi.

8. Banyak menyibukkan diri dengan berdzikir kepada Alloh  subhanahu wa ta’ala sepanjang hari.

Alloh  subhanahu wa ta’ala berfirman:

“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Alloh sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring….” (QS. Ali ‘Imran [3]: 191)

9. Memperbanyak membaca al-Qur’an.

Karena Jibril  menyambut bulan Ramadhan de-ngan saling membacakan al-Qur’an (tadārus) dengan Rosulullloh shalallohu alaihi wa sallam.

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallohu anhuma, ia berkata:

( كَانَ رَسُولُ اللَّهِ  أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ )

“Rosululloh  adalah orang yang paling dermawan dan lebih akan dermawan lagi di bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya pada setiap malam, lalu saling membacakan al-Qur’an dengannya.” (HR. al-Bukhari)

Demikian juga tradisi para salaf, mereka menyambut bulan Ramadhan ini dengan banyak membaca al-Qur’an.

Imam Malik  setiap datang bulan Ramadhan, ia meninggalkan majlis ilmu dan memfokuskan diri untuk membaca al-Qur’an.

Imam az-Zuhri  rahimahullah pernah ditanya, “Amalan apa saja yang seharusnya dikerjakan pada Ramadhan?”, maka ia menjawab, “Amalan pada bulan itu hanyalah membaca al-Qur’an dan memberi hidangan makanan untuk ber-buka.”

Khususkan untuk membaca al-Qur’an minimal satu juz setiap hari sehingga bisa mengkhatamkan al-Qur’an minimal satu bulan sekali. Bisa juga kita membagi satu juz itu dalam lima kali, yakni kita membaca setiap ba’da sholat fardhu seperempat juz (setara dengan lima hala-man). Ini tentu lebih meringankan.

10. Bersedekah meskipun hanya dengan separuh kurma, dengan disertai keyakinan kuat bahwa malaikat men-doakan kita dengan:

(( اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ))

“Ya Alloh, berikanlah ganti bagi orang yang ber-sedekah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

KETIGA:

AMALAN WAKTU ZHUHUR

1. Shalat sunnah qabliyyah Zhuhur sebanyak empat raka’at.

Dalam sebuah riwayat dinyatakan:

Bahwasanya Nabi  shalallohu alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan empat raka’at sebelum Zhuhur dan dua raka’at sebelum Shubuh.” (HR. al-Bukhari)

Empat raka’at tersebut dikerjakan dengan dua kali salam.

2. Shalat Zhuhur tepat pada waktunya.

Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam bersabda:

(( لَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي التَّهْجِيْرِ لاَسْتَبَقُوْا إِلَيْهِ ))

“Seandainya mereka mengetahui pahala yang ada pada tahjīr (bersegera untuk mendatangi shalat Zhuhur berjama’ah), niscaya mereka akan saling berlomba-lomba.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

3. Shalat sunnah ba’diyyah (setelah) Zhuhur dua raka’at.

4. Beristirahat sejenak dengan niat yang baik, yaitu agar segar bugar ketika melaksanakan amal kebaikan dan aktifitas ibadah selanjutnya.

KEEMPAT:
AMALAN WAKTU ‘ASHAR

1. Shalat ‘Ashar berjama’ah.

Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam bersabda:

((مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْجَنَّةَ )). قِيْلَ ِلأَبِيْ مُحَمّدٍ: ( مَا البَرْدَيْنِ؟) قَالَ: ( الغَدَاةُ وَالعَصْرُ )

“Barangsiapa yang menjaga shalat bardain (dua waktu dingin) niscaya akan masuk surga.”

Maka dikatakan kepada Abu Muhammad (salah se-orang perawi hadits), “Apa itu Bardain?”. Ia menjawab: “Waktu Shubuh dan ‘Ashar.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

2. Mendengarkan nasehat dan kajian di masjid.

Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam bersabda:

(( مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَقرؤُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ فِيْمَابَيْنَهُمْ، إِلاَّ حَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ، وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ ))

“Tidaklah suatu kaum duduk di salah satu rumah Alloh (masjid) sambil membaca al-Qur’an dan saling mempelajarinya di antara mereka, melain-kan akan dikelilingi malaikat, diturunkan kete-nangan hati, dinaungi rahmat, dan Alloh akan menyebutkan mereka kepada (malaikat) yang ada di sisi-Nya.”

Dari Abu Umamah radhiallohu anhu, bahwa Nabi Muhammad  shalallohu alaihi wa sallam bersabda:

(( مَنْ غَدَا إِلَى الَمَسْجِدِ لاَ يُرِيْدُ إِلاَّ لِيَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ، كَانَ لَهُ أَجْرُ مُعْتَمِرٍ تَامًا حَجَّتَهُ ))

“Barangsiapa yang pergi ke masjid, tidaklah ia pergi melainkan untuk mempelajari ilmu atau meng-ajarkannya, maka ia akan mendapapatkan pahala orang yang ‘umrah lagi sempurna hajinya.” (HR. ath-Thabrani, disahihkan al-Albani)

3. Duduk di masjid untuk membaca al-Qur’an dan dzikir, khususnya dzikir sore.

4. Memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga.

5. Membuat halaqah atau kajian keluarga untuk mem-pelajari al-Qur’an dan as-Sunnah serta hukum-hukum Ramadhan, atau mendengarkan Radio Islami, atau membaca buku dan majalah Islami.

KELIMA:

AMALAN WAKTU MAGHRIB

1. Menyibukkan diri dengan banyak berdoa sebelum datang waktu Maghrib (berbuka).

Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam bersabda:

(( ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: مِنْهُمْ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ ))

“Ada tiga golongan yang tidak akan ditolak doanya: di antaranya adalah orang yang puasa sampai ia berbuka.” (HR. at-Tirmidzi dan ia berkata hadits Shahih)

Lalu berbuka puasa dan berdoa:

(( ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ، وَثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ ))

“Telah hilang dahaga dan telah basah kerongkong-an, semoga mendapatkan pahala insya Alloh (jika Alloh menghendaki).” (HR. Abu Dawud dan ad-Daruquthni, sanadnya hasan)

Doa ini dibaca setelah mencicipi hidangan buka puasa.

2. Menyegerakan berbuka.

Rosululloh  shalallohu alaihi wa sallambersabda:

(( لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ ))

“Umat manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

3. Memulai buka puasa dengan kurma, jika tidak ada maka dengan air.

Rosululloh  shalallohu alaihi wa sallam bersabda:

(( إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا فَلْيُفْطِرْ عَلَى التَّمْرِ، فَإِنْ لَمْ يَجِدِ التَّمْرَ فَعَلَى الْمَاءِ، فَإِنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ ))

“Apabila salah seorang dari kalian berbuka, maka mulailah dengan kurma, bila tidak ada, maka ber-bukalah dengan air, karena air itu suci.” (HR. Abu Dawud)

4. Berbuka secukupnya dan menghindari makan secara berlebihan hingga kekenyangan.

Sebab hal ini bisa menimbulkan rasa malas dan berat dalam beribadah.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

“…Makan dan minumlah kalian dan jangan ber-lebih-lebihan. Sesungguhnya Alloh tidak me-nyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. al-‘Araf [7]: 31)

5. Ikut berpartisipasi memberikan hidangan makanan kepada orang yang akan berbuka puasa.

Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam bersabda:

(( مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ، غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئٌ ))

“Barangsiapa yang memberi makan kepada orang yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala-nya (orang yang puasa), tanpa mengurangi pahala yang berpuasa sedikitpun.” (HR. Ahmad, dishahih-kan al-Albani)

6. Mengerjakan shalat Maghrib secara berjama’ah dan bersegera mendatangi masjid.

7. Mengerjakan shalat ba’diyyah Maghrib dua raka’at.

8. Berkumpul dengan keluarga dan anak-anak untuk menikmati sedikit hidangan malam.

9. Bersiap-siap untuk Shalat ‘Isya dan tarawih.

KEENAM:

AMALAN WAKTU ‘ISYA

1. Shalat ‘Isya berjama’ah di masjid dan bersegera untuk mendatanginya.

2. Mengerjakan shalat ba’diyyah ‘Isya dua raka’at.

3. Shalat tarawih bersama imam hingga selesai.

Rosululloh  shalallohu alaihi wa sallam bersabda:

(( مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ))

“Barangsiapa yang menyemarakkan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pa-hala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lampau.” (HR. al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, an-Nasa’i dan at-Tirmidzi)

(( مَنْ قَامَ مَعَ اْلإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ، كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ ))

“Barangsiapa yang shalat (tarawih) bersama imam sampai selesai, maka akan dicatat baginya (pahala) shalat sepanjang malam” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dan ia berkata hadits hasan shahih)

Apabila telah selesai tarawih dan ditutup dengan shalat witir, maka disunnahkan membaca doa:

(( سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ))

(Dibaca 3 X) (HR. Abu Dawud, dishahihkan al-Albani)

Dan membaca doa:

(( اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لاَ أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ ))

4. Segera tidur dan tidak banyak mengobrol tanpa suatu keperluan.

Abu Barzah al-Aslami rahimahullah berkata:

( وَكَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَهَا وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا )

Rosululloh membenci tidur sebelum ‘Isya dan mengobrol setelahnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

5. Jangan lupa ketika hendak tidur untuk melaksanakan Sunnah Nabi , seperti tidur dalam keadaan suci (berwudhu), miring ke bagian kanan dan ditambah dengan membaca doa-doa sebelum tidur.

AGENDA PENTING LAINNYA

DI BULAN RAMADHAN

1. Satu amalan lagi yang penting dan utama yaitu mela-kukan ibadah ‘umroh pada bulan Ramadhan jika mampu. Karena, pahala ‘umroh di bulan Ramadhan sangatlah besar. Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam bersabda:

(( فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ تَقْضِي حَجَّةً مَعِي ))

“Sesungguhnya (pahala) ‘umrah pada bulan Rama-dhan seperti haji bersamaku.” (HR. al-Bukhari)

1. Menjelang bulan Ramadhan atau di tengah Ramadhan biasanya diterbitkan buku-buku yang berkenaan de-ngan Ramadhan, baik yang tebal maupun yang ringkas. Padanya ada faedah yang besar. Maka janganlah kita lewatkan diri kita dari pahala membacanya, atau me-nyebarkan dan membagi-bagikannya. Karena, barang-siapa yang menunjukkan kepada kebaikan maka bagi-nya pahala seperti orang yang melakukannya.

2. Pada bulan Ramadhan, bulan yang baik lagi penuh berkah, biasanya juga diadakan pameran-pameran Islam tentang keadaan kaum Muslimin di negara-negara Islam. Maka janganlah Anda tertinggal untuk turut serta hadir dan menyumbang, baik dalam bentuk materil maupun moril.

3. Jangan pula ditinggalkan sunnah-sunnah rawātib di bulan Ramadhan atau di bulan lainnya. Ketahuilah, jika kita tinggalkan sunah-sunnah tersebut, maka kita menderita kerugian yang besar, yaitu terlewatkannya sebuah rumah di surga setiap hari.

Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam bersabda:

(( مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّي لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ، إِلاَّ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ ))

Tidaklah seorang Muslim shalat karena Alloh sebanyak dua belas raka’at sunnah setiap hari se-lesai shalat fardhu, kecuali Alloh bangunkan bagi-nya sebuah rumah di surga.” (HR. Muslim)

Adapun sunnah-sunnah rawātib tersebut adalah:

  • Dua raka’at sebelum fajar atau Shubuh;
  • Empat raka’at sebelum Zhuhur dan dua raka’at sesudahnya;
  • Dua raka’at setelah Maghrib; dan
  • Dua raka’at setelah ‘Isya.

4. Lailatul Qadar atau malam kemuliaan setara dengan 83 tahun 4 bulan dari umur kita, maka tambahkanlah amal-amal kita yang banyak di waktu-waktu yang sedikit tersebut agar kita mendapatkan keberkahan yang besar dan beruntung mendapatkan surga.

5. Bulan Ramadhan adalah kesempatan yang agung untuk menambah ketaatan-ketaatan, maka janganlah kita sia-siakan kesempatan yang mulia itu dengan ke-luyuran dan mondar-mandir ke pasar-pasar, khusus-nya pada sepuluh hari terakhir.

6. Terakhir, hendaknya kita banyak berdoa kepada Alloh  (khususnya di akhir-akhir Ramadhan) agar Dia menerima puasa dan shalat malam kita. Karena berapa banyak orang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa kecuali hanya sekedar haus dan lapar saja. Juga berapa banyak orang shalat malam namun tidak mendapatkan apa-apa dari shalat malamnya kecuali rasa lelah dan begadang saja.

Catatan Untuk Kaum Muslimah

Saudariku kaum Muslimat….

Berupayalah untuk melipatgandakan amal kebaikan dan ketaatan yang mubāh (dibolehkan) bagi Anda di waktu datang haid ketika tidak ada shalat dan puasa. Maka gantilah semua itu dengan beragam ibadah seperti ber-dzikir dan beristighfar kepada Alloh , bershalawat ke-pada Nabi , berdoa, bersedekah, mendengarkan al-Qur’an, membaca buku yang bermanfaat, memberi hi-dangan berbuka kepada orang-orang yang berpuasa dan amal-amal kebaikan lainnya.

Ketahuilah wahai saudariku kaum Muslimat….

Ketika Anda terhalang untuk melaksanakan shalat dan puasa di waktu haid dan Anda niatkan itu semata-mata dalam rangka mentaati Alloh  subhanahu wa ta’ala dan rela terhadap apa yang telah ditentukan-Nya, maka Anda dalam ke-adaan diberi pahala.

Dan hendaknya –wahai saudariku tercinta– lisanmu selalu basah karena berdzikir kepada Alloh subhanahu wa ta’ala. Karena yang demikian itu adalah hiasan mulut dan makanan hati serta penenang jiwa. Dan dzikirpun merupakan pernia-gaan besar yang sangat menguntungkan.

Wahai pemilik semangat yang tinggi dan cita-cita yang luhur, raihlah kesempatan yang baik ini sebelum terlewat-kan dan bergegaslah kepada amalan-amalan kebaikan!

Terakhir, kita semua memohon kepada Alloh subhanahu wa ta’ala  agar Dia memberkahi kita semua dalam bulan Ramadhan ini dan menjadikan kita orang yang dirahmati dengan amalan puasa dan shalat kita serta berbagai amal shaleh lainnya.

Semoga shalawat dan salam sejahtera

tercurah atas Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam ,

keluarga dan para sahabatnya
Sumber : Bukusaku.net

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s