Renungan : Ukhti, SMS Apa Ini ukh..??

Bismillahirrahmaanirrahiim

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

“Jazakillah ukhty, atas shalat Isya berjamaahnya tadi. Sangat terkesan sekali bagi saya.”

Seorang akhwat menerima SMS itu malam hari, di saat ia sedang berupaya memejamkan matanya. Ia bingung, apakah harus menjawab SMS ini ataukah membiarkannya. Karena terus terang, pengirim SMS itu adalah seorang ikhwan yang menjadi imam shalat Isya di kampus tadi. Kebetulan waktu itu, mereka hanya berdua, dan harus shalat Isya’ berjamaah.

Dalam hati ukhty itu bertanya-tanya. “Kenapa berkesan? Bukankah setiap shalat haruslah berkesan? Kenapa berkesan? Apakah ia tidak khusyuk dalam shalatnya? Ataukah karena aku makmumnya?” Akhirnya dengan berat hati akhwat itu membiarkan SMS itu tanpa balas.

Beberapa menit kemudian hape nya kembali berdering. Saat ini hanya misscall, dan bisa ditebak siapa yang misscall. Selain pulsa nelpon juga mahal, ikhwan itu ingin memberi isyarat, kenapa SMS-nya tidak dibalas. Si Akhwat tetap bersikukuh tidak menjawabnya, karena menurutnya si Ikhwan berlebihan dan tidak pada tempatnya. Akhirnya hape-nya kembali berbunyi, sebuah gambar bertanda Amplop nongol di layar hapenya. Dibuka dan dibacanya,

“Semoga ukhty diberi kenyamanan hati dan diberkahi Allah Ta’ala malam ini. Dan mudah-mudahan bisa shalat malam nanti. Selamat bobo dan mimpi yang indah. Dari saudaramu seperjuangan.”

Akhwat ini senyam senyum tak ada habisnya. Ia semakin tahu seberapa kualitas ikhwan ini. Ia jadi ragu apakah ia “Ikhwan ataukah Bakwan”. Menurutnya SMS semacam ini tidaklah perlu disampaikan. Meski terlihat menasehati dan baik-baik saja, tapi ia berpikir SMS semacam ini adalah sebentuk zina hati yang terselimuti dakwah yang sudah tidak pada tempatnya.

Saudaraiku ukhti fillah..,Mungkin saja Anti yang membaca tulisan ini pernah mengalaminya. Mendapatkan SMS dari sosok aktivitis dakwah, apakah ikhwan atau akhwat. Ataupun dari seorang laki biasa yang engkau kenal. Awalnya mungkin hanya saling bertanya tentang kepentingan dakwah atau diskusi belajar. Persiapan sebuah tabligh akbar, rencana rapat sekolah atau memilih ketua BEM di kampus, rencana rapat tahunan organisasi keislaman, membahas kurikulum TPA atau apalah kepentingannya. Namun ternyata rasanya enak juga bisa saling berkirim SMS alias SMS-an. Apalagi kalau ternyata obrolannya nyambung banget, si ikhwan tahu perasaan si akhwat dan si akhwat pun mesam mesem tak ada habisnya menjawab SMS dari si ikhwan. Kalau sudah seperti ini biasanya SMSnya bisa ngelantur kemana-mana.

Lama-lama SMSnya pun berubah dari sms dakwah menjadi sms Merah Jambu. Mulai berani bertanya:

“Ukhty lagi ngapain? Ukhty udah makan belum. Jaga Kesehatan loh ukh. Sekarang musim hujan.”

Eh, apa perlunya si ikhwan bertanya semacam itu? Emang penting? Ia menjadi sosok yang penuh perhatian. SMSnya menjadi ngalor-ngidul tak jelas apa maksudnya. Ironisnya, si akhwat justru terbuai. Ia takluk dengan senjata ikhwan gombal ini.

Si akhwat selalu menjawab SMS itu dengan jawaban-jawaban yang sama. “Ana lagi makan akh. Akhy udah maem belum…?” Yach, setali tiga uang dech ini namanya. Sama saja kualitasnya. Mereka sama-sama menikmati SMS-an itu. Kepentingan awal sebagai SMS koordinasi dakwah melenceng menjadi berbagi perhatian antara ikhwan dan akhwat. Hemm… apa ini namanya? Ikhwan apa bakwan, akhwat apa kawat?

Hal ini nampaknya harus diwaspadai. Jangan-jangan mereka telah menyemai benih, sebelum masa tanam. Jangan-jangan mereka telah menanam cinta, sebelum waktunya. Jangan-jangan pola saling SMS-an ini menjadi cara mereka untuk saling berkomunikasi bukan dalam arti sebenarnya.

Sungguh saudariku,,SMS itu melibatkan dua orang, pengirim dan penerima. Dan Setan terkutuk itu berbaris-baris diujung sinyal Indosat yang engkau gunakan sebagai kartu telponmu. Setan-setan itu mengubah dari warna hitam tulisan dari si pengirim menjadi“warna merah jambu” ketika sampai pada si penerima.

DImanapaun dan kapanpun, setan adalah musuh yang nyata bagi umat manusia. Maka hanya hati yang bersih saja yang mampu menepis bujukan sesatnya.

SMS PDKT-kah?

Ikhwan tentu saja memiliki niat saat mengirim SMS itu. Awalnya mungkin niatnya baik sebagai sebuah nasihat yang baik. Tapi karena setan memang sangat licik, akhirnya jurusnya mulai mempengaruhi si ikhwan. Selain itu juga karena lampu hijau yang ditunjukkan oleh si akhwat sendiri.

Oleh karena itu, kita harus mulai memperhatikan persoalan ini. Harus dibedakan manakah yang benar-benar SMS murni nasihat, ataukah semata hanya kedok saja. Mereka yang semata ingin memberi nasehat tidak akan berpanjang-panjang dalam SMS-an. Bila dianggap sudah cukup, maka tidak perlu dilebar-lebarkan. Bila dengan SMS 10 kata sudah cukup, kenapa harus memakai 20 kata? bukankah itu kemubaziran..??

Menjawab SMS secukupnya sesuai dengan yang dibutuhkan. Lagipula sebenarnya dalam hati kecil kita sebagai seorang ikhwan dan akhwat bisa dengan mudah mendeteksi apakah SMS kita sudah melenceng ataukah masih lurus-lurus saja. Kita adalah manusia dewasa yang sudah bisa membedakan mana yang baik-baik saja dan mana yang sudah berlebihan.

Bagi para akhwat sebaiknya tidak memberikan ruang yang lebar kepada para ikhwan. Bila SMS ikhwan sudah mulai tidak bener, maka lebih baik dicuekin saja. Tidak perlu dibalas dengan kata-kata pedas. Karena sekali dijawab, ikhwan akan merasa mendapatkan lampu hijau. Dan perlu diketahui, ikhwan sangat tahu bahwa akhwat suka sekali bila diperhatikan. Karena itu merupakan tabiat para wanita pada umumnya. Mereka suka diperhatikan..!! Jadi bagi ikhwan yang bermental bakwan mereka rela membeli pulsa isi ulang sebanyak mungkin dan dibela-belain mencari program SMS murah demi memberi perhatian ini.

Bagi para ikhwan, saya berharap Antum tetap menjadi sosok yang tangguh. Antum sangat mungkin menjadi pihak yang agresif. Tapi Antum juga sangat mungkin menjadi pihak yang dikejar. Hape Antum tiba-tiba berbunyi terus karena misscall orang tak dikenal sepuluh kali mungkin. Jangan Ge Er dulu, belum tentu itu dari akhwat. Boleh jadi dari nomer nyasar yang ingin menagih utang. Bila antum mendapat SMS yang ‘gimana gitu’ dari akhawat, sebaiknya dijawab dengan bijaksana dan secukupnya saja. Selain karena memang pulsa masih mahal, hal itu akan menjaga Muru’ah (harga diri) antum di depan Allah SWT.

Jadi, kalau memang antum jatuh cinta dan ingin pedekate, nyatakanlah terus terang, lebih sopan dan jantan bila antum menempuh jalur Ta’aruf, ajukan proposal itu kepada si akhwat jika antum benar-benar bermental seorang ikhwan, bukan Bakwan !Tidak dengan SMS an berlama-lama yang tidak jelas kepentingannya.

Afwan dan terimakasih..

Barakallahufikum..semoga bermanfaat

Wassalam

13 thoughts on “Renungan : Ukhti, SMS Apa Ini ukh..??

  1. fenomena ini ramai juga loh di facebook. Ya hati2 saja.

    Saya cuma bisa mendoakan dan mengatakan kalau jodoh itu sudah diatur. Bisa aja yang sms-an tadi berjodoh hehe..

    Btw, Saya pernah punya teman yg seperti itu, akhirnya menikah. Bukan SMS-an loh ya. Dan mereka ga pernah SMS gombal kayak cerita diatas, ih gw aja yang “bukan” aktivis males banget ngebacanya. parah.. tapi karena aktivitas organisasi, menjadi dekat dan dijodoh-jodohin. Sama teman2 lain. Dianggap cocok. Sama2 aktivis. Teman saya nggak mau pusing, daripada fitnah langsung saja ngomong ke mr hehe.. abis tuh mereka nikah. Masih kuliah. Jadi kalau di “ciee” kan orang lain, la emang suami istri!

    kisah nyata berakhir bahagia. sekedar cerita masa lalu teman saya, yang sampai sekarang masih baik mohon maaf kalau berbeda pendapat.🙂

  2. Ikhwan dan akhwat sebenarnya bisa menyadari jika mereka terjebak dalam sms merah jambu, tapi biasanya hawa nafsu yang membuat mereka sulit menyudahi hal tersebut..

  3. tuh…baca yang baik, and berusahalah untuk lebih bertaqwa for All, Semoga Allah senantiaasa memberikan hidayahnya kepada kita semua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s