Duhai Sang Mujahid Dakwah, Kematianmu Sungguh Indah

Sebuah kisah seorang sahabat serta guru kita dalam menuntut ilmu Islam, yang wafat dalam membela Dakwah di Jalan Alloh. Semoga Alloh merahmati dan menempatannya dalam Syurga nan mulia.

Waktu menunjukan pukul 19.30, ya sudah saatnya saya berangkat. Berangkat dalam misi amanah ini, walau tubuh terasa berat, dan sedikt meriang, namun tak ada waktu untuk bermalas-malasan dan menunda kesempatan ini, kesempatan untuk terjun langsun dalam mengusung dakwah kemurnian.

Starting point keberangkatan di masjid Ali bin abi Thalib, jam 20.00. Dan semua panitia dan pengisi BBSM (Ust. Ridwan rahimahulloh) sudah ada di tempat. Dan saatnya kami pergi menuju lamongan. Ya..dengan kendaraan seadanya pada wkatu itu, namun tidak sama sekali mengurungkan misi nan suci ini, lalu kami pun berangkat dengan mobil carry merah (mobil inventaris). Jauhnya perjalanan merupakan hal yang biasa bagi kami, sedikitnya bisa menjadikan kami lebih teguh,  belum lagi cuaca malam yang sulit sekali diprediksi.

Di perjalananpun kami terhambat oleh macet, baik itu di bogor, di Jakarta, dan di kota kota lainnya, pegal, pengap, panas sudah menjadi hal sering mengiringi..

tapi semua ini adalah salah satu perjuangan kami untuk menguji seberapa sabar kami dalam menapaki jalan dakwah. Waktu-waktu malampun mulai mengiringi, dinginya perjalan sedikit menyelimuti, angin kenacang yang masuk di calah celah mobil, menerpa badan badan lesu nan tertidur, ya kami terjauh dari nikmatnya tidur di kasur kasur empuk, dan terus terjaga “dengan ketikdak nyamanan ini”. Sekilas saya melihat jalan jalan yang yang sepi, oh ini kah keadaan malam  hari itu, dimana Alloh “menunggu” hamba-hambanya yang bersegera taubat dan menyucikan diri. Namun di keheningan malampun, tak ayal di salah satu pom bensin, pasangan perempuan dan laki laki berbaur ibarat suami istri..astagfirulloh..

Setelah mengisi bensin di salah satu pom bensin, dan kami pun beristirahat keluar mobil, meregangkan otot-otot yang kaku, ada yang hanya keluar menghirup udara dari pengapnya mobil, dan lain lain. Sekilas saya cek, ternyata masih di Indramayu, perlu berjam jam tiba di timur jawa. Kami pun berangkat kembali meneruskan perjalan ini, di perjalanan semua lelah dan tertidur, ada sebagian berbincang bincang ringan dan tertidur kembali.

Lalu tiba tiba mobil pun berhenti, langsung kami terbangun, dan ternyata sopir minta diganti dengan salah satu sopir cadangan. ‘Oh ternyata minta di rolling” gumam ku didalam hati, dan mobil pun berjalan meneruskan perjalanan. Kami pun tertidur kembali hanya sang sopir saja yang terjaga, ya demi keselamatan kami semua.

Kami pun tertidur kembali, dalam sepinya malam yang gelap gulita. Tapi sungguh aneh perasaan ini, seakan tidak menentu, hal hal yang buruk seakan-akan  terjadi, ya salah satunya kemungkian kami tabrakan atau yang lainnya. Namun mungkin ini hanya bisikan bisikan syetan untuk menakut-nakuti. Ketika dibawa tidur, ada hal yang berbeda yang saya (penulis) rasakan, kecepatan mobil yang dibawa supir sebelumnya dengan yang sekarang berbeda, kalau supir sebelumnya pembawaannya tenang dan stabil namun ketika di rolling pembawaan mobil yang di bawa oleh sang supir  seakan akan lebih kencang, dan menambah ketakutan di keheningan malam..

Hanya padaMu ya Robb kami berserah diri…

Sungguh diluar perkiraan, dentuman suara keras, jeritan ketakutan, dan suara takbir memekik di sunyinya malam, semua terperanjat, mencari tahu gerangan yang terjadi. Semua terkaget dan mulai panik,  kami segera mengevakuasi, didapati pada waktu itu suara rintihan kesakitan dan permintaan bantuan, ternyata suara sang sopir cadangan meminta bantuan kepada kami, karena posisi dia pada waktu itu terjepit oleh himpitan setir, kami mencoba mengeluarkan walau sedikit kesulitan pada waktu itu. Saya lihat bagiaan depan mobil, sungguh tak terlihat seperti mobil, semua rata, yang ada hanyalah jeritan korban. Lambat laun kami pun bisa mengeluarkan sang sopir, dan didapati banyaknya darah di bagian kepala, dan dengan segera kami membawanya ke bahu jalan tol. Tinggal satu lagi korban yang ada di mobil yaitu ustad Ridwan Rohimahulloh, kami langsung ke bagian depan mobil agar bisa mengeluarkan dari himpitan mobil. Didapati pada waktu itu ustd Ridwan Rahimahulloh terkapar tidak tersadar, kami mencoba untuk membangunkan agar sadar namun tidak sadar juga.

Yang saya dengar pada wkatu itu, salah satu teman kami mencoba membangunkan ustad Ridwan dan berkata”afwan akhi…zarkasyi..zarkasyi….zarkasyi…antum bangun..antum jangan mati zarkasyi..ya Alloh zarkasyi….”. namun tetap tidak tidak ada reaksi. Didapati pula di daerah muka banyak sekali lumuran darah kental, dan serpihan serpihan kaca  baik itu di daerah kepala maupun di bagian badan lainnya. Saya coba mengecek denyutan nadi di tangannya, ternyata tidak ada denyutan, “mungkin koma” gumamku dalam hati pada waktu itu. Disaat kami mencoba evakuasi, sebagian ada yang bertugas meminta pertolongan kepada mobil-mobil yang lewat pada waktu itu, sedikti sulit untuk meminta pertolongan, dan kami pun bingung harus melapor kepada siapa. Namun alhamdulillah ada yang rela membantu kami, sebuah mobil berbentuk mobil kijang dengan segera membantu kami, dan menawarkan bantuan, sang supir dimana pada waktu itu terluka kami bawa masuk ke mobil itu, dan tinggal satu lagi ustad Ridwan rohimahulloh yang masih ada di mobil, maka dengan segera kami mengeluarkan ustad Ridwan Rahimahulloh, dan darah sudah menetes di baju-baju kami melalui bagian kepala yang terluka, kami tak menghiraukan sedikitpun yang terpenting adalah bagaimana caranya kami mendapatkan perawatan medis. Kami mencoba untuk mengeluarkan ustadz Ridwan rohimahulloh, dan ternyata kami berhasil, walau agak sedikit terjepit, kami angkat ia dan segera membawanya ke rumah sakit.

Kami dan para korban berangkat menuju rumah sakit, di perjalanan menuju rumah sakit, kendala pun kami dapati, sekitar sejam lebih kami mencari rumah sakit umum, karena cuaca malam dan keterbatasan kami.

Akhirnya sampai sudah kami di rumah sakit, tak berlama lama, sang supir yag terluka cukup serius  dan ustadz Ridwan rohimahulloh dibawa ke ruang ICU, satu yang membuat kami terhentak, dan terpukul, ternyata perawat mengabarkan kepada kami, kalau ustadz Ridwan rohimahulloh sudah meninggal. Menangis hati ini ketika mendengar berita itu, bagaimana mungkin ini bisa terjadi, kejadian begitu cepat, padahal kami sebelumnya sempat berbincang-bincang dan tertawa, tapi semua berlainan sudah. “Qoddarulloh wama sya-a fa’ala” gumamku dalam hati, ketika alloh berkehendak tak ada yang sanggup untuk merubah kehedakNya. Saya lihat air mata mulai menetes, teman teman pun bersedih atas kepergian ini, antara percaya dan tidak begitu samar, Ya Robb hanya kepadaMu lah kami kembali.

Waktu menunjukan pukul 19.30, ya sudah saatnya saya berangkat. Berangkat dalam misi amanah ini, walau tubuh terasa berat, dan sedikt meriang, namun tak ada waktu untuk bermalas-malasan dan menunda kesempatan ini, kesempatan untuk terjun langsun dalam mengusung dakwah kemurnian.

Starting point keberangkatan di masjid Ali bin abi Thalib, jam 20.00. Dan semua panitia dan pengisi BBSM (Ust. Ridwan rahimahulloh) sudah ada di tempat. Dan saatnya kami pergi menuju lamongan. Ya..dengan kendaraan seadanya pada wkatu itu, namun tidak sama sekali mengurungkan misi nan suci ini, lalu kami pun berangkat dengan mobil carry merah (mobil inventaris). Jauhnya perjalanan merupakan hal yang biasa bagi kami, sedikitnya bisa menjadikan kami lebih teguh,  belum lagi cuaca malam yang sulit sekali diprediksi.

Di perjalananpun kami terhambat oleh macet, baik itu di bogor, di Jakarta, dan di kota kota lainnya, pegal, pengap, panas sudah menjadi hal sering mengiringi..

tapi semua ini adalah salah satu perjuangan kami untuk menguji seberapa sabar kami dalam menapaki jalan dakwah. Waktu-waktu malampun mulai mengiringi, dinginya perjalan sedikit menyelimuti, angin kenacang yang masuk di calah celah mobil, menerpa badan badan lesu nan tertidur, ya kami terjauh dari nikmatnya tidur di kasur kasur empuk, dan terus terjaga “dengan ketikdak nyamanan ini”. Sekilas saya melihat jalan jalan yang yang sepi, oh ini kah keadaan malam  hari itu, dimana Alloh “menunggu” hamba-hambanya yang bersegera taubat dan menyucikan diri. Namun di keheningan malampun, tak ayal di salah satu pom bensin, pasangan perempuan dan laki laki berbaur ibarat suami istri..astagfirulloh..

Setelah mengisi bensin di salah satu pom bensin, dan kami pun beristirahat keluar mobil, meregangkan otot-otot yang kaku, ada yang hanya keluar menghirup udara dari pengapnya mobil, dan lain lain. Sekilas saya cek, ternyata masih di Indramayu, perlu berjam jam tiba di timur jawa. Kami pun berangkat kembali meneruskan perjalan ini, di perjalanan semua lelah dan tertidur, ada sebagian berbincang bincang ringan dan tertidur kembali.

Lalu tiba tiba mobil pun berhenti, langsung kami terbangun, dan ternyata sopir minta diganti dengan salah satu sopir cadangan. ‘Oh ternyata minta di rolling” gumam ku didalam hati, dan mobil pun berjalan meneruskan perjalanan. Kami pun tertidur kembali hanya sang sopir saja yang terjaga, ya demi keselamatan kami semua.

Kami pun tertidur kembali, dalam sepinya malam yang gelap gulita. Tapi sungguh aneh perasaan ini, seakan tidak menentu, hal hal yang buruk seakan-akan  terjadi, ya salah satunya kemungkian kami tabrakan atau yang lainnya. Namun mungkin ini hanya bisikan bisikan syetan untuk menakut-nakuti. Ketika dibawa tidur, ada hal yang berbeda yang saya (penulis) rasakan, kecepatan mobil yang dibawa supir sebelumnya dengan yang sekarang berbeda, kalau supir sebelumnya pembawaannya tenang dan stabil namun ketika di rolling pembawaan mobil yang di bawa oleh sang supir  seakan akan lebih kencang, dan menambah ketakutan di keheningan malam..

Hanya padaMu ya Robb kami berserah diri…

Sungguh diluar perkiraan, dentuman suara keras, jeritan ketakutan, dan suara takbir memekik di sunyinya malam, semua terperanjat, mencari tahu gerangan yang terjadi. Semua terkaget dan mulai panik,  kami segera mengevakuasi, didapati pada waktu itu suara rintihan kesakitan dan permintaan bantuan, ternyata suara sang sopir cadangan meminta bantuan kepada kami, karena posisi dia pada waktu itu terjepit oleh himpitan setir, kami mencoba mengeluarkan walau sedikit kesulitan pada waktu itu. Saya lihat bagiaan depan mobil, sungguh tak terlihat seperti mobil, semua rata, yang ada hanyalah jeritan korban. Lambat laun kami pun bisa mengeluarkan sang sopir, dan didapati banyaknya darah di bagian kepala, dan dengan segera kami membawanya ke bahu jalan tol. Tinggal satu lagi korban yang ada di mobil yaitu ustad Ridwan Rohimahulloh, kami langsung ke bagian depan mobil agar bisa mengeluarkan dari himpitan mobil. Didapati pada waktu itu ustd Ridwan Rahimahulloh terkapar tidak tersadar, kami mencoba untuk membangunkan agar sadar namun tidak sadar juga.

Yang saya dengar pada wkatu itu, salah satu teman kami mencoba membangunkan ustad Ridwan dan berkata”afwan akhi…zarkasyi..zarkasyi….zarkasyi…antum bangun..antum jangan mati zarkasyi..ya Alloh zarkasyi….”. namun tetap tidak tidak ada reaksi. Didapati pula di daerah muka banyak sekali lumuran darah kental, dan serpihan serpihan kaca  baik itu di daerah kepala maupun di bagian badan lainnya. Saya coba mengecek denyutan nadi di tangannya, ternyata tidak ada denyutan, “mungkin koma” gumamku dalam hati pada waktu itu. Disaat kami mencoba evakuasi, sebagian ada yang bertugas meminta pertolongan kepada mobil-mobil yang lewat pada waktu itu, sedikti sulit untuk meminta pertolongan, dan kami pun bingung harus melapor kepada siapa. Namun alhamdulillah ada yang rela membantu kami, sebuah mobil berbentuk mobil kijang dengan segera membantu kami, dan menawarkan bantuan, sang supir dimana pada waktu itu terluka kami bawa masuk ke mobil itu, dan tinggal satu lagi ustad Ridwan rohimahulloh yang masih ada di mobil, maka dengan segera kami mengeluarkan ustad Ridwan Rahimahulloh, dan darah sudah menetes di baju-baju kami melalui bagian kepala yang terluka, kami tak menghiraukan sedikitpun yang terpenting adalah bagaimana caranya kami mendapatkan perawatan medis. Kami mencoba untuk mengeluarkan ustadz Ridwan rohimahulloh, dan ternyata kami berhasil, walau agak sedikit terjepit, kami angkat ia dan segera membawanya ke rumah sakit.

Kami dan para korban berangkat menuju rumah sakit, di perjalanan menuju rumah sakit, kendala pun kami dapati, sekitar sejam lebih kami mencari rumah sakit umum, karena cuaca malam dan keterbatasan kami.

Akhirnya sampai sudah kami di rumah sakit, tak berlama lama, sang supir yag terluka cukup serius  dan ustadz Ridwan rohimahulloh dibawa ke ruang ICU, satu yang membuat kami terhentak, dan terpukul, ternyata perawat mengabarkan kepada kami, kalau ustadz Ridwan rohimahulloh sudah meninggal. Menangis hati ini ketika mendengar berita itu, bagaimana mungkin ini bisa terjadi, kejadian begitu cepat, padahal kami sebelumnya sempat berbincang-bincang dan tertawa, tapi semua berlainan sudah. “Qoddarulloh wama sya-a fa’ala” gumamku dalam hati, ketika alloh berkehendak tak ada yang sanggup untuk merubah kehedakNya. Saya lihat air mata mulai menetes, teman teman pun bersedih atas kepergian ini, antara percaya dan tidak begitu samar, Ya Robb hanya kepadaMu lah kami kembali.

One thought on “Duhai Sang Mujahid Dakwah, Kematianmu Sungguh Indah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s